JAKARTA, NABACUT.COM – Melesatnya nilai tukar mata uang Amerika Serikat (AS) kian merepotkan pasar finansial domestik. Pertanyaan mengenai kenapa dolar naik hari ini terus mencuat setelah rupiah terperosok ke level terendahnya di angka Rp 18.036 per dolar AS pada penutupan pekan ini, sabtu (6/6/2026).
Fenomena ambruknya nilai tukar mata uang Garuda yang menembus level psikologis baru ini tentu tidak terjadi tanpa alasan. Para analis ekonomi dan data komparasi global dari Reuters serta Bloomberg menunjukkan adanya kombinasi hantaman dari sektor geopolitik, inflasi luar negeri, hingga pergerakan arus modal.
Bagi Anda yang memantau pergerakan terupdate harian, situasi ini merupakan kelanjutan dari sentimen negatif yang terjadi sepanjang pekan ini.
Secara garis besar, berikut adalah 3 penyebab utama kenapa dolar naik hari ini dan memicu rupiah melemah secara drastis:
1. Konflik Geopolitik Timur Tengah di Selat Hormuz
Faktor utama yang memicu kepanikan investor global adalah eskalasi militer yang kian memanas di Timur Tengah, khususnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak mentah dunia.
Adanya gangguan keamanan di jalur laut tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia secara instan. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung menarik dana mereka dari negara berkembang seperti Indonesia, lalu memindahkannya ke aset yang dinilai paling aman (safe haven), yaitu dolar AS. Hal inilah yang membuat indeks dolar (DXY) kian perkasa.
2. Inflasi Amerika Serikat Masih Tinggi (The Fed “Higher for Longer”)
Penyebab kedua datang dari kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa inflasi di sektor bisnis jasa AS masih berada di level yang tinggi akibat lonjakan biaya komoditas.
Kondisi ini memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan semula (higher for longer). Suku bunga AS yang tinggi membuat para pemilik modal lebih tertarik memarkirkan uangnya di bank-bank Amerika, yang secara otomatis memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia.
3. Penurunan Pasokan Valas di Pasar Domestik
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperparah oleh berkurangnya pasokan valuta asing (valas), khususnya pasokan dolar AS di pasar domestik. Kebutuhan korporasi untuk membayar utang luar negeri atau melakukan impor yang tinggi tidak sebanding dengan ketersediaan stok dolar di dalam negeri.
Melihat situasi penawaran dan permintaan yang tidak seimbang ini, Bank Indonesia akhirnya terpaksa merilis aturan darurat demi memperketat ruang gerak pembelian valas di masyarakat agar tidak terjadi spekulasi yang lebih liar.
Antisipasi Dampak Lanjutan bagi Masyarakat
Mengetahui alasan kenapa dolar naik hari ini sangat penting, karena efek domino dari pelemahan kurs ini diprediksi akan langsung menyentuh sektor riil. Harga barang-barang konsumsi berskala impor, biaya produksi industri, hingga harga tiket liburan ke luar negeri berpotensi mengalami penyesuaian harga dalam beberapa pekan ke depan.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000, Liburan ke Luar Negeri dan Harga Gadget Baru Diprediksi Makin Mahal.