
Ilustrasi pelemahan rupiah mendekati Rp18.100 per dolar AS yang berdampak pada sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia, menciptakan emiten yang diuntungkan maupun dirugikan oleh penguatan dolar.
JAKARTA, NABACUT.COM – Gelombang pelemahan nilai tukar rupiah yang belum mereda hingga Sabtu (6/6/2026) kian menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di tengah posisi rupiah loyo nyaris Rp 18.100—atau tepatnya mendarat di kisaran Rp 18.036 hingga Rp 18.039 per dolar AS pada penutupan pekan pertama Juni 2026—para investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini wajib menyusun ulang strategi portofolio mereka.
Pergerakan nilai tukar yang sangat volatil ini memicu rotasi sektor saham yang cukup masif. Sebagian emiten terancam mengalami penurunan laba bersih, namun di sisi lain, ada deretan saham yang justru mendulang berkah berlimpah dari menguatnya mata uang Paman Sam.
Situasi pasar modal saat ini sangat dipengaruhi oleh hantaman sentimen makroekonomi global yang bergulir sepanjang minggu ini.
Baca Juga: Kenapa Dolar Naik Hari Ini? Ini 3 Penyebab Utama Rupiah Melemah hingga Tembus Rp 18.000
Bagi para trader dan investor jangka panjang, berikut adalah peta komparasi daftar emiten pilihan saat rupiah loyo nyaris Rp 18.100 terhadap dolar AS:
Deretan Saham yang Diuntungkan (Sektor Eksportir & Komoditas)
Emiten yang masuk dalam kategori ini memiliki struktur pendapatan dalam bentuk dolar AS (dollar earner), namun mayoritas biaya operasionalnya berbasis mata uang rupiah. Ketika dolar menggila, margin keuntungan mereka otomatis melebar.
Sektor Pertambangan Batu Bara & Energi: Emiten besar seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diuntungkan karena seluruh kontrak penjualan internasional mereka menggunakan denominasi dolar AS.
Sektor Perkebunan Kelapa Sawit (CPO): Emiten komoditas minyak sawit mentah seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mendapat angin segar dari penguatan kurs ini saat mengekspor produknya ke luar negeri.
Deretan Saham yang Dirugikan (Beban Utang Dolar & Bahan Baku Impor)
Kebalikan dari sektor komoditas, emiten yang masuk kelompok ini akan mengalami tekanan berat pada laporan keuangan akibat membengkaknya biaya produksi (imported inflation) atau beban kurs utang luar negeri.
Sektor Farmasi dan Obat-obatan: Emiten kesehatan sangat rentan karena hampir 90% bahan baku aktif obat masih diimpor dari luar negeri dengan skema pembayaran dolar.
Sektor Infrastruktur & Telekomunikasi yang Memiliki Utang Valas: Emiten yang memiliki porsi utang jangka panjang dalam mata uang dolar AS tanpa lindung nilai (hedging) yang kuat berpotensi mengalami kerugian selisih kurs yang cukup masif.
Sektor Otomotif dan Manufaktur Elektronik: Emiten perakitan kendaraan terancam mengalami penurunan margin laba jika harga komponen impor melambung tinggi dan konsumen domestik mulai menahan belanja akibat melemahnya daya beli.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Pasar Modal
Melihat kondisi pergerakan kurs terbaru, para analis menyarankan investor untuk lebih defensif. Memilih saham-saham berfundamental kokoh dengan rasio utang valas yang rendah adalah langkah paling aman.
Selain memantau saham, tidak ada salahnya melirik instrumen pelindung nilai lainnya untuk menyeimbangkan aset finansial Anda selama bank sentral memperketat peredaran valas di dalam negeri bulan ini.








